SKRIPSI PENGARUH PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS MADRASAH TERHADAP TUJUAN BELAJAR SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH

 

SKRIPSI PENGARUH PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS MADRASAH TERHADAP TUJUAN BELAJAR SISWA  DI MADRASAH TSANAWIYAH
DBINFOBLOG.COM - Sudah mendekati semester akhir tapi masih bingung mencari skripsi, berikut adalah contoh skripsi

PENGARUH PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS MADRASAH TERHADAP TUJUAN BELAJAR SISWA

DI MADRASAH TSANAWIYAH


BAB  I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan memegang peranan penting dalam membangun bangsa baik sebagai infrastruktur ekonomi, politik, sosial dan budaya bangsa. Keberhasilan pembangunan bangsa tergantung pada sumber daya manusianya, sumberdaya manusia akan berkualitas apabila pendidikannya berkualitas. Dalam  hal ini proses pendidikan harus dilaksanakan dengan baik. Sebab pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan (Ihsan, 2003: 1-2).

Di samping itu pendidikan adalah suatu usaha yang teratur dan sistematis yang dilakukan oleh orang-orang yang bertanggungjawab, untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan. Dengan kata lain disebutkan bahwa pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada peserta didik dalam pertumbuhan jasmani dan rohani untuk mencapai tingkat dewasa.

Pendapat di atas sesuai dengan tujuan pendidikan Indonesia seutuhnya, yaitu sebagaimana termaktub dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara tang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Mengingat sangat pentingnya pencapaian tujuan pendidikan tersebut peranan Manajemen Berbasis Madrasah melalui kepala madrasah dan unsur-unsur yang terkait mempunyai peran penting dalam mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan.  Hal ini tercantum dalam hadits Rosulullah SAW sebagai berikut:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال النبي ص.م كلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته ... (متفق عليه)

Artinya : “Dari Ibnu Umar r.a Nabi Muhammad SAW bersabda : “setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya…” (Mutafaqun Alaih) (Bahreisj, 1986: 287).

Dari hadits di atas dikemukakan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Demikian juga dengan kepala madrasah, disamping ia bertanggungjawab terhadap program yang dilaksanakan di madrasahnya, di hadapan Tuhan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa kepala madrasah mempunyai tanggung jawab terhadap terhadap pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah di lingkungan madrasahnya, sehingga jika pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah tersebut berjalan dengan baik maka tujuan belajar siswa akan berhasil dengan baik.

Madrasah Tsanawiyah  ........ adalah salah satu madrasah yang telah menjalankan program kukirulum Manajemen Berbasis Sekolah dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, sehingga dengan Manajemen Berbasis Sekolah tersebut telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam rangka mencapai tujuan belajar siswanya.

Berdasarkan uraian di atas, telah menarik minat penulis untuk menjadikan Madrasah Tsanawiyah  ........ sebagai obyek kajian penelitian ilmiah dalam bentuk skripsi yang berjudul: Pengaruh Pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah terhadap Pencapaian Tujuan Belajar Siswa di Madrasah Tsanawiyah ........

B.     Alasan Pemilihan Judul

Alasan pemilihan judul dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1.      Alasan Obyektif

a.       Judul tersebut menarik untuk diteliti, karena pelaksanaan manajemen berbasis madrasah saat pemberlakuannya diharapkan dapat meningkatkan tujuan belajar siswa

b.      Mengingat mutu pendidikan harus ditingkatkan dan diupayakan pencapaianya sesuai dengan tujuan pendidikan, maka Manajemen Berbasis Madrasah harus dilaksanakan secara profesional dan kepala madrasah selaku pemegang kendali teratas di madrasah harus mampu mengambil inisiatif dan prakarsa untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran madrasah yang dipimpinnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana.

2.      Alasan Subyektif

a.       Judul tersebut menarik untuk diteliti dan dikaji karena sesuai dengan disiplin ilmu peneliti, yakni Jurusan Tarbiyah Program Studi Kependidikan Islam.

b.      Tersedianya literatur sekaligus waktu, tempat dan dana yang digunakan dalam menunjang keberhasilan suatu penelitian.

c.       Adanya persetujuan dari Ketua Program Studi Kependidikan Islam mengenai judul yang diajukan oleh peneliti.

d.      Bersedianya dosen pembimbing dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada peneliti.

C.    Penegasan Judul 

Untuk mempertegas suatu arah yang dimaksud dalam judul skripsi, maka penulis perlu untuk memperjelas pengertian dan batasan dari kata-kata yang perlu diketahui. Penegasan judul dalam skripsi merupakan langkah utama dalam menentukan suatu maksud dalam menginterprestasikan permasalahan dari penelitian skripsi yang berjudul “Pengaruh Pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah terhadap Pencapaian Tujuan Belajar Siswa di Madrasah Tsanawiyah  ........

Untuk menghindari kesalahpahaman arti dan agar skripsi ini mudah dipahami, maka perlu ditegaskan kembali tentang istilah dari judul yang ada.  Hal-hal yang perlu ditegaskan dan diberikan arti pada judul tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Pengaruh

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata pengaruh mempunyai arti “daya yang dapat menyebabkan sesuatu terjadi, sesuatu yang dapat membentuk, atau mengubah sesuatu yang lain” (Badudu, 1996:1031)

2.      Pelaksanaan

Badudu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata pelaksanaan sebagai pengerjaan, perwujudan suatu pekerjaan (Badudu, 1996:1031)

3.      Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) 

Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) adalah semakna dengan Manajemen Berbasis Sekolah atau “school based management” (SBM) yaitu pengelolaan pendidikan secara otonom (Mulyasa, 2004:4) Kewenangan atau otonom tersebut mencakup semua bidang pemerintahan, yakni pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, penanaman modal, dan lain-lain (Mulyasan, 2004: 5).

Jadi manajemen berbasis madrasah di sini diartikan pengelolaan lembaga pendidikan dari pemerintah kepada pihak sekolah secara otonom berdasarkan asas desentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. 

4.      Tujuan Belajar 

Menurut Badudu, 1996: 1543 “Tujuan adalah arah; kemana” sedangkan belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2)

Jadi yang dimaksud dengan tujuan belajar adalah arah yang akan ditempuh kemana seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan.

5.      Siswa

Kata siswa adalah kata sandang yang dipakai oleh seseorang yang sedang menuntut ilmu; murid, pelajar : SD, SMP atau SMA; mahasiswa (Badudu, 1996: 1338)

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud judul skripsi ini ialah suatu daya yang dapat menyebabkan terjadinya pelaksanaan manajemen berbasis madrasah di Madrasah Tsanawiyah  .........

D.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan fokus masalah sebagai berikut: Adakah pengaruh pelaksanaan manajemen berbasis madrasah terhadap pencapaian tujuan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah  ......... Jika ada seberapa kuat ?

E.     Tujuan Penelitian

Sesuai fokus penelitian, maka tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh pelaksanaan manajemen berbasis madrasah terhadap pencapaian tujuan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah  ........

F.     Manfaat Penelitian

Penelitian mempunyai manfaatnya yang besar bagi pengembangan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan penelitian, dapat diketahui hal-hal yang berhubungan dengan beberapa faktor, baik yang menghambat maupun yang menunjang ilmu pengetahuan.

Demikian dengan penelitian ini, penelitian ini mengandung beberapa manfaat, diantaranya adalah :

1.      Bagi Madrasah Tsanawiyah  ........ yang saat penelitian ini berlangsung dalam tahun pelajaran  ........, utamanya kepada kepala madrasah, guru madrasah, dan siswa diharapkan hasil penelitian ini bisa memberikan kontribusi pemikiran dan dijadikan sebagai bahan kajian kepala madrasah, guru-guru untuk melaksanakan manajemen berbasis madrasah sehingga hasilnya diharapkan mampu meningkatkan mutu madrasah baik secara kualitas maupun kuantitas.

2.      Bagi peneliti, sebagai bahan study empirik untuk penyelesaian skripsi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember dan sekaligus sebagai calon guru dan calon kepala madrasah, hal ini akan menjadikan kajian dalam mengembangkan pemikiran tentang upaya menerapkan Manajemen Berbasis Madrasah sehingga hasilnya diharapkan mampu meningkatkan mutu madrasah.

3.      Bagi siswa (peserta didik), sebagai bahan masukan bahwa dengan pelaksanaan manajemen berbasis madrasah di tempat menempuh ilmunya (di Madrasah Tsanawiyah  ........ yang saat penelitian ini berlangsung dalam tahun pelajaran  ........) bahwa dengan pelaksanaan manajemen berbasis madrasah diharapkan dapat meningkatkan kegiatan belajar peserta didik, sehingga kualitas keilmuan peserta didik di madrasah ini akan meningkat.

G.    Asumsi dan Keterbatasan

Dalam proses penelitian ini, tentunya tidak terlepas dari adanya hambatan-hambatan, namun dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa hambatan-hambatan tersebut merupakan motivasi untuk lebih kreatif dalam mencari solusi yang tepat terhadap segala persoalan yang ada.


  1. Asumsi

a.        Bahwa ada pengaruh pelaksanaan manajemen berbasis madrasah terhadap pencapaian tujuan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah  ........ yang saat penelitian ini berlangsung dalam tahun pelajaran  ........

b.        Bahwa siswa madrasah juga berupaya dengan baik dan maksimal dalam menghadapi pelaksanaan manajemen berbasis madrasah yang telah diterapkan di sekolahnya, sehingga dengan dengan dukungan siswa pelaksanaan manajemen berbasis madrasah akan berjalan dengan optimal dan mencapai hasil yang baik.

c.        Bahwa dengan diberlakukannya manajemen berbasis madrasah di Madrasah Tsanawiyah  ........ mutu dan kualitas pembelajaran di madrasah tersebut disamping akan menghasilkan output yang siap berkompetisi untuk masuk sekolah yang lebih tinggi, juga guru akan memacu diri untuk membekali dirinya dengan pengetahuan yang lebih banyak.

H.    Metode dan Prosedur Penelitian

Beberapa hal yang perlu penulis jelaskan dengan metodologi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah:


1.      Pendekatan Penelitian

Pendekatan ini menggunakan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian dimana datanya dinyatakan dalam bentuk data kuantitatif. Data kuantitatif yaitu data yang berwujud angka-angka yang bisa di peroleh dari hasil penjumlahan (menghitung) atau bisa juga dari hasil pengukuran, dan analisis kuantitatif ini disebut juga analisis statistik.

2.      Penentuan Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan wilayah penelitian atau keseluruahan objek penelitian dalam mana hasil penelitian akan dilakukan (STAIN Jember, 2002:15). Adapun yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Madrasah Tsanawiyah  ........ Tahun Pelajaran  ........ yang berjumlah 585 siswa.

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti secara mendalam sebagai wakil dari populasi (STAIN, 2002: 15). Dalam penelitian ini sampel yang diambil sebanyak 100 orang dari populasi yang ada dan menggunakan stratified proportional random sampling.

Menurut Margono (2004:128) sampel proportional adalah sampel yang menunjukkan perbandingan penarikan sampel dari beberapa yang tidak sama jumlahnya. Stratified random sampling adalah sampel yang bisa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis (Margono, 2004:129).

Jadi stratified proportional random sampling adalah sampel yang digunakan pada populasi dari beberapa sub populasi yang susunannya bertingkat dan jumlahnya tidak sama.

3.      Metode Pengumpulan Data

Untuk mendukung penelitian ini agar memperoleh hasil yang memuaskan, sesuai  dengan fakta yang terjadi di lapangan, maka penelitian ini didukung dengan metode pengumpulan data. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :

a.       Observasi

Menurut Margono (2003: 158), “observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian”.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa observasi adalah salah satu metode atau cara yang dipergunakan untuk memperoleh data atau fakta dalam suatu penelitian.

Observasi ini dilakukan jika jenis penelitian adalah tipe penelitian lapangan, maksudnya ada obyek yang akan diteliti, dilihat dan dilakukan pengamatan, namun untuk penelitian yang berjenis penelitian pustaka, metode observasi kurang maksimal dilakukan.


Subagyo (2004: 63) mengemukakan:

Observasi adalah pengamtaan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.  Observasi sebagai alat pengumpul data dapat dilakukan secara spontan dapat pula dengan daftar isian yang telah disiapkan sebelumnya.

 

Sedangkan pengertian observasi menurut  Nawawi (1995: 100) adalah “pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Observasi langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observer berada bersama obyek yang diselidiknya”.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap peristiwa yang tampak dalam obyek penelitian.

Dalam observasi dikenal adanya bermacam-macam cara melakukan observasi. Adapun cara melakukan observasi menurut Arikunto (2002: 133) adalah sebagai berikut:

1)     Observasi non sistematis. Dalam observasi jenis ini, penelitian yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan

2)     Observasi sistematis. Jenis observasi ini adalah merupakan kebalikan dari observasi non sistematis. Pada teknik ini observer dalam melakukan penelitian observassi dengan menggunakan instrumen pengamatan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kedua-duanya yaitu observasi non sistematis dan observasi sistematis.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa observasi adalah salah satu metode atau cara yang dipergunakan untuk memperoleh data atau fakta dalam suatu penelitian.

Adapun data yang diperoleh dengan menggunakan metode observasi ini adalah sebagai berikut:

1)      Letak lokasi penelitian Madrasah Tsanawiyah  ........

2)      Aktivitas kepala Madrasah Tsanawiyah  ........

3)      Aktivitas guru, karyawan dan siswa

4)      Sarana dan prasarana Madrasah Tsanawiyah  ........

b.      Interview

Metode pengumpulan data interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pernyataan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula (Haryono, 1998: 135). Metode ini yang banyak berperan adalah kemampun komunikasi peneliti, karena semakin pandai peneliti berbicara dengan responden maka semakin banyak pula data yang dapat dikumpulkan.

Interview adalah salah satu metode pengumpulan data dengan cara bertanya jawab langsung pada responden. Hal ini Nazir (1999: 234) mengemukakan; “proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab/responden”.

Interview merupakan alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari interview adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi (interviewer) dan sumber informasi (interviewee) (Hadi dan Haryono, 1998 : 135).

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa dalam pelaksanaannya, pencari informasi (interviewer) lebih baiknya berkontak langsung dengan tatap muka dengan sumber informasi (interviewee) dan harus dapat menciptakan suasana yang akrab, hangat, sikap simpatik dan kerja sama agar diperoleh data-data (informasi) yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Agar proses wawancara/interview dapat terlaksana sesuai dengan yang tersebut di atas, ada tiga macam pedoman wawancara/interview, yakni:

1)      Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan, yang tentunya kreatifitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis ini lebih banyak tergantung dari pewawancara.

2)      Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check list. Pewawancara tinggal membubuhkan tanda v (check) pada nomor yang sesuai.

3)      Pedoman wawancara semi terstruktur, yakni mula-mula pewawancara menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variabel dengan keterangan lebih lengkap dan mendalam (Arikunto, 2002:132).

Dalam penelitian ini, peneliti untuk mencari data penelitian dengan menggunakan metode wawancara tidak terstruktur, dimana peneliti langsung mengadakan wawancara dengan membuat daftar pertanyaan secara garis besarnya saja.

Pada skripsi ini dipergunakan metode interview bebas terpimpin untuk menggali data. Tekniknya, sebelum diadakan wawancara terlebih dahulu dipersiapkan dengan situasi dan kondisi yang ada. Data yang akan diperoleh dengan menggunakan metode interview ini adalah tentang:

1)      Upaya kepala madrasah sebagai administrator dalam meningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah  ........

2)      Upaya kepala madrasah sebagai supervisor dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah  ........

3)      Peluang dan hambatan upaya kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah  ........

c.       Angket

Angket adalah “Sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui” (Arikunto, 2002:128).

Angket adalah pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Berangkat dari sini yang menjadi responden adalah 100 orang siswa Madrasah Tsanawiyah  ........ Tahun Pelajaran  ........

Adapun data yang ingin diperoleh dengan menggunakan metode angket adalah tentang :

1)      Pelaksanaan manajemen berbabis madrasah

2)      Tujuan belajar siswa


d.      Dokumenter

Metode dokumenter adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat dan sebagainya. Arikunto berpendapat metode dokumentasi adalah “mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, lengger, agenda dan sebagainya” (2002: 206).

Dari pendapat di atas, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa metode dokumentasi adalah suatu metode untuk memperoleh keterangan-keterangan, informasi-informasi dari catatan-catatan peristiwa masa lalu yang berupa dokumen.

Adapun data yang akan diperoleh dengan metode dukumenter ini adalah tentang:

1)      Sejarah berdirinya Madrasah Tsanawiyah  ........

2)      Struktur organisasi di Madrasah Tsanawiyah  ........

3)      Keadaan guru di Madrasah Tsanawiyah  ........

4)      Denah Madrasah Tsanawiyah  ........


4.      Metode Analisa Data

Metode analisis data ini adalah sebagai alat untuk mengelola data hasil penelitian, sehingga mendapat suatu kesimpulan dari penelitian. Hadi menyatakan bahwa :

“Dalam pengertian yang sempit kata statistik digunakan untuk menunjukkan semua kenyataan yang berwujud angka-angka tentang suatu kejadian khusus. Dalam pengertian yang luas yaitu pengertian tekhnik methodik statistik berarti cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan dan penyelidikan yang berwujud angka-angka (2001 : 221).

Karena penelitian ini menggunakan analisis kuantitaif dalam memperoleh kebenaran suatu karya ilmiah untuk memperoleh kebenaran suatu karya ilmiah atau mudahnya dalam pengujian hipotesis maka menggunakan metode statistik.

Adapun teknik analisa statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah tekhnik analisa data chi kwadrat dengan rumus :


 

 

 



Keterangan :

X2        = Chi Kwadrad

fo         = Frekwensi yang diperoleh

fh         = Frekwensi yang diharapkan

Rumus di atas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pelaksanaan manajemen berbasis madrasah terhadap tujuan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah  ........ Tahun Pelajaran  ........

Sedangkan untuk mengetahui besar kecilnya pengaruh tersebut menurut Arikunto dilanjutkan dengan rumus statistik koefesien kontingensi yaitu :



Keterangan :

KK               :    Koefisien Kontingensi

X2                 :    Chi Kwadrat

Kemudian hasil analisa akan dikonfirmasikan dengan kriteria penafsiran. Menurut Arikunto nilai-nilai koefisien korelasi atau nilai r tersebut adalah sebagai berikut :

 

Besarnya Nilai r

Interpretasi

Antara 0.800 – 1.000

Tinggi

Antara 0.600 – 0.800

Cukup

Antara 0.400 – 0.600

Agak rendah

Antara 0.200 – 0.400

Rendah

Antara 0.000 – 0.200

Sangat rendah

(tak berkorelasi)

                                                                                                            (2002 : 245)

I.       Sistematika Pembahasan

Dalam penulisan skripsi ini akan dijelaskan sisitematika pembahasannya. Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini terbagi menjadi empat bab antara lain sebagai berikut:

Bab pertama adalah pendahuluan. Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, penegasan judul, perumusan masalh, tujuan penelitian, manfaat penelitian, asumsi dan keterbatasan, metode dan prosedur penelitian, serta sistematika pembahasan.

Bab kedua memuat tentang tinjauan teoritis. Dalam bab ini diuraikan tentang pelaksanaan manajemen berbasis madrasah yang terdiri dari variabel pengelolaan kurikulum : perencanaan, pelaksanaan dan penilaian atau evaluasi; pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan kesiswaan, dan pengelolaan keuangan, dilanjutkan dengan kerangka teoritik tujuan belajar yaitu untuk mendapatkan pengetahuan, untuk mendapatkan keterampilan dan untuk pembentukan sikap.

Bab ketiga memuat tentang hasil-hasil penelitian. Dalam bab ini dikemukakan tentang laporan hasil penelitian yang didapat dari lapangan. Adapun data yang dihimpun dalam penelitian yang meliputi latar belakang obyek penelitian yaitu informasi tentang kondisi fisik atau geografis Madrasah Tsanawiyah  ........ tahun pelajaran  ........, dilanjutkan penyajian data dan analisa data, diakhiri dengan diskusi dan interpretasi.

Bab keempat memuat kesimpulan akhir dari karya ilmiah ini, serta mengemukakan beberapa saran terkait dengan hasil penelitian di lapangan.


BAB  II

KERANGKA TEORITIK

 

A.    Manajemen Berbasis Madrasah

1.      Pengertian

Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) adalah semakna dengan Manajemen Berbasis Madrasah atau “School Based Management” (SBM) menurut Mulyasa yaitu pengelolaan pendidikan secara otonom . Kewenangan atau otonom tersebut mencakup semua bidang pemerintahan, yakni pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, penanaman modal, dan lain-lain (2004: 4-5).

Jadi manajemen berbasis madrasah di sini diartikan pengelolaan lembaga pendidikan dari pemerintah kepada pihak  madrasah  secara otonom berdasarkan asas desentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. 

2.      Konsep Dasar Manajemen Berbasis Madrasah

MBM merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat madrasah (pelibatan masya­rakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi diberikan agar madrasah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat (Mulyasa, 2004: 24). Adapun konsep dasar Manajemen Berbasis Madrasah adalah sebagai berikut :

a.       kebijaksanaan dan kewenangan madrasah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua, dan guru;

b.      bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal;

c.       efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus madrasah, moral guru, dan iklim sekolah;

d.      adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan, memberdayakan guru, manajemen madrasah, rancang ulang madrasah, dan perubahan perencanaan (Fattah, 2000) (dalam Mulyasa, 2004: 24).

 

Dalam pelaksanaannya di Indonesia, perlu ditekankan bahwa kita tidak harus meniru secara persis model-model MBS dari negara lain. Sebaliknya Indonesia akan belajar banyak dari pengalaman­-pengalaman pelaksanaan MBS di negara lain, kemudian memo­difikasi, merumuskan, dan menyusun model dengan mempertim­bangkan berbagai kondisi setempat seperti sejarah, geografi, struktur masyarakat, dan pengalaman-pengalaman pribadi di bidang pengelolaan pendidikan yang telah dan sedang berlangsung selama ini.

3.      Tujuan dan Manfaat MBM

a.      Tujuan MBM

Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi, yang dinyatakan dalam GBHN.

Hal tersebut diharapkan dapat dijadikan landasan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelan­jutan, baik secara makro, meso, maupun mikro.

Adapun tujuan Manajemen Berbasis Madrasah adalah :

1)      Meningkatkan efisiensi, mutu dan pemerataan pendidikan

2)      Keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi (Mulyasa, 2004: 25).

b.      Manfaat MBS

MBS mendorong profesionalisme guru dan kepala madarasah sebagai pemimpin pendidikan di madrasah. Melalui penyusunan kurikulum yang efektif, rasa tanggap madrasah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan peserta didik dan masyarakat sekolah. Prestasi peserta didik dapat dimaksimalkan melalui peningkatan partisipasi orang tua, misalnya, orang tua dapat mengawasi langsung proses belajar anaknya (Mulyasa, 2004: 25-26).

Dari pernyataan di atas akhirnya manfaat Manajemen Berbasis Madrasah adalah sebagai berikut :

1)      Mendorong profesionalisme guru dan kepala madrasah

2)      Rasa tanggap madrasah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan peserta didik

3)      Prestasi peserta didik dapat dimaksimalkan melalui peningkatan partisipasi orang tua

4.      Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam MBM

BPPN bekerja sama dengan Bank Dunia (1999) telah mengkaji beberapa faktor yang perlu diperhatikan sehubungan dengan manajemen berbasis madrasah. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kewajiban madrasah, kebijakan dan prioritas pemerintah, peranan orang tua dan masyarakat, peranan profesionalisme dan manajerial, serta pengembangan profesi.

5.      Kewajiban Madrasah

Manajemen berbasis madrasah yang menawarkan keleluasaan pengelolaan madrasah memiliki potensi yang besar dalam menciptakan kepala madrasah, guru, dan pengelola sistem pendidikan profesional. Oleh karena itu, pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban, serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi, untuk menjamin bahwa madrasah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah (Mulyasa, 2004: 27)


6.      Kebijakan dan Prioritas Pemerintah

Pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan dengan program peningkatan melek huruf dan angka (literacy and numeracy), efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. (Mulyasa, 2004: 27)

Agar prioritas-prioritas pemerintah dilaksanakan oleh madrasah, pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum ten­tang pelaksanaan MBM.

7.      Peranan Orangtua dan Masyarakat

MBM menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat, serta mengefisien­kan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan partisipasi masyarakat, dan hal ini merupakan salah satu aspek penting dalam manajemen berbasis madrasah (Mulyasa, 2004: 27)

8.      Peranan Profesionalisme dan Manajerial

Pelaksanaan MBM berpotensi mening­katkan gesekan peranan yang bersifat profesional dan manajerial. Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan MBM, kepala madrasah, guru, dan tenaga administrasi harus memiliki kedua sifat tersebut, yaitu profesional dan manajerial. Mereka harus memiliki penge­tahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pen­didikan untuk menjamin bahwa segala keputusan penting yang dibuat oleh madrasah (Mulyasa, 2004: 28)

B.     Pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah

1.      Pengelolaan Kurikulum

a.       Perencanaan

Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menterjemahkan pesan-pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak dan kepribadian bangsa.

Di samping itu, era reformasi yang sedang kita jalani, juga ditandai oleh beberapa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan; politik, moneter, hankam, dan kebijakan mendasar lainnya. Diantara perubahan tersebut adalah lahirnya Undang-undang No.22 tahun 1999 tentang otonomi daerah yang menuntut pengelolaan pendidikan secara otonom dengan model manajemen berbasis madrasah (MBM) atau “school based management” (SBM).  (Mulyasa, 2004:4)

Kondisi di atas menuntut pemikiran-pemikiran yang sistematis, untuk merumuskan bentuk hubungan kerja yang sesuai bagi dasar dan kaitannya dengan otonomi daerah dan relevansi pendidikan. Sehingga perlu suatu perencanaan yang benar-benar realistik untuk kepentingan masa yang akan datang yang dalam manajemen berbasis madrasah yang bernafaskan Islam disebut niat yang baik sebagaimana hadits nabi :

إنما الأعمال بالنيات ... (رواه البخارى ومسلم)

Artinya :    Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal, bergantung pada niatnya (HR. Buhari dan Muslim) (Bahreisj, 1986: 11)

b.      Pelaksanaan

Setelah kurikulum yang ditetapkan telah direncanakan dengan baik, maka sudah tentu apa yang telah ditetapkan harus segera dilaksanakan. Untuk kurikulum pemerintah mempunyai andil yang besar untuk menentukan bagi madrasah tentang kurikulum yang diwajib diterapkan di madrasah yang dibawah naungannya.

Mulyasa mengatakan bahwa Implementasi (pelaksanaan) merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap (2003: 93), yang dalam konteks pendidikan Islam harus dilaksanakan dengan penuh komitmen dan sungguh-sungguh.

c.       Penilaian

Segala sesuatu (apapun bentuknya) yang sudah dilaksanakan tentu membutuhkan penilaian (evaluasi) untuk mengetahui hasilnya. Apakah yang dilakukan itu sudah sesuai dengan standar pencapaian atau kurang sesuai bahkan mungkin meleset dari tujuan yang diinginkan.

Demikian juga dengan kurikulum, setelah kurikulum yang diterapkan dilaksanakan maka dibutuhkan evaluasi untuk mengetahui hasilnya. Menurut Daryanto (1999:195), Yang menjadi titik perhatian ialah bahwa cara dan alat evaluasi (penilaian) ditentukan oleh isi Tujuan Instraksional Khusus (TIK). TIK yang dirumuskan dengan benar pasti dapat menunjukkan cara dan alat yang efektif dan efisien. TIK itu berisi salah satu dari tiga kemungkinan; mengenai pemahaman (kognitif), penerimaan (sikap, afektif) dan keterampilan (psikomotor). Oleh karena itu tesnya harus sesuai dengan isi, tes pengetahuan, tes sikap dengan skala sikap, tes keterampilan dengan tes tindakan (performan test)

Dari penyataan di atas dapat dirumuskan bahwa penilaian yang sebenarnya merupakan penilaian yang diperoleh pendidik setelah mengidentifikasi hasil pembelajaran dan proses belajar mengajarnya. Misalnya ketika peserta didik mampu mengaplikasikan suatu pembahasan atau mampu memecahkan permasalahan yang muncul pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung.

Indikator penilaian yang sebenarnya antara lain:

a)      menilai dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber

b)      mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik 

c)      mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau pengalaman tugas-tugas yang kontekstual dan relevan

d)      proses dan produk kedua-duanya dapat diukur (Nurhadi, 2003:51). 

Pada intinya kurikulum yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir pembelajaran. Yang tidak kalah penting bahwa kemajuan belajar dinilai dari proses bukan hanya dari hasil dan dengan berbagai cara.  Sesuai dengan pandangan Islam bahwa setiap kegiatan perlu adanya muhasabah atau penilaian terhadap apa yang sudah dilaksanakan maupun tidak dilaksanakan.

d.      Pengelolaan Sarana dan Prasarana

Prasarana pembelajaran meliputi gedung madrasah, ruang belajar, lapangan olah raga, ruang ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olah raga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium madrasah, dan berbagai media pengajaran yang lain. Lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelaran yang baik (Dimyati dan Mudjiono, 2006, 249)

1)      Pengaturan (manajemen)

Sarana dan prasarana yang lengkap jika tidak dikelola dengan baik tentu tidak akan menghasilkan proses pembelajaran dengan maksimal.  Agar sarana dan prasaran yang lengkap tersebut dapat menghasilkan proses pembelajaran dengan maksimal tentunya harus dikelola (diatur) dengan manajemen yang baik.  Lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal itu tidak berarti bahwa lengkapnya prasarana dan sarana menentukan jaminan terselenggaranya proses belajar yang baik. Justeru di sinilah timbul masalah “bagaimana mengelola prasarana dan sarana pembelajaran sehingga terselenggara proses belajar yang berhasil baik” (Mudjiono dan Dimyati, 2006: 249).

2)      Penjagaan (pemeliharaan)

Dalam madrasah semua unsur yang terkandung di dalamnya semuanya harus ikut serta dalam penjagaan (pemeliharaan) terhadap sarana dan prasarana. Karena prasana dan sarana proses belajar adalah barang mahal. Barang-barang tersebut dibeli  dengan uang pemerintah dan masyarakat. Maksud pembelian tersebut adalah untuk mempermudah siswa belajar (2006: 250).

Menurut Dimyati bahwa peranan guru adalah sebagai
berikut : 1) memelihara, mengatur sarana dan prasarana untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memelihara dan mengatur prasarana untuk menciptakan suasana pembelajaran yang berorientasi pada keberhasilan siswa belajar, dan peranan siswa adalah ikut serta memelihara dan mengatur prasarana dan sarana secara baik (2006: 250).


e.       Pengelolaan Kesiswaan

1)      Penerimaan siswa baru

Disamping sarana dan prasana yang harus dikelola dengan baik dan profesional. Satu hal lagi yang membutuhkan pengelolaan secara professional adalah siswa.

Semua siswa baik siswa yang sudah menginjak kelas II atau kelas maupun kelas I (siswa baru) dengan adanya pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) maka mempunyai kewajiban untuk mengelola siswa baru yang meliputi : a) pembangunan hubungan baik dengan siswa, b) menggairahkan minat, perhatian dan memperkuat motivasi belajar, c) mengorganisasi belajar, d) melaksanakan pendekatan pembelajaran secara tepat, e) mengevaluasi hasil belajar secara jujur dan obyektif serta f) melaporkan hasil belajar siswa kepada orang tua siswa yang berguna bagi orientasi masa depan siswa (Mudjiono, 2006: 249)

 

2)      Kegiatan belajar mengajar

Kegiatan belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehignga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan (Mulyasa, 2003: 100).


f.        Pengelolaan Keuangan

Pembiayaan pendidikan berbasis madrasah merupakan bagian dari kegiatan pembiayaan pendidikan, yang secara keseluruhan menuntut kemampuan madrasah untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi serta mempertanggungjawabkannya secara efektif dan transfaran. Dalam penyelenggaraan pendidikan di madrasah, manajemen pembiayaan merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan.

Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, manajemen pembiayaan pendidikan berbasis madrasah perlu dilakukan untuk menunjang penyediaan sarana dan prasarana dalam rangka mengefektifkan kegiatan pembelajaran, dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi kegiatan manajemen pembiayaan pendidikan berbasis madrasah, bagaimana prosedur pengembangan anggaran biaya madrasah tersebut, dan mengapa p.rosedur tersebut dilakukan, diperlukan suatu pengkajian khusus.

Dari berbagai hasil kajian konseptual dapat dideskripsikan bahwa manajemen pembiayaan pendidikan berbasis madrasah mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pertanggungjawaban (Depag RI, 2003: 115)


1)      Perencanaan

Perencanan pembiayaan pendidikan berbasis madrasah sedikitnya mencakup dua kegiatan, yakni penyusunan anggaran, dan pengembangan rencana anggaran belanja madrasah (RAPBM). Kedua kegiatan pokok tersebut diuraikan sebagai berikut.

a)      Penyusunan Anggaran Pembiayaan

Penyusunan anggaran pembiayaan pendidikan berbasis madrasah atau sering disebut anggaran belanja madrasah (ABM), biasanya dikembangkan dalam format-format yang meliputi: (1) sumber pendapatan terdiri dari uang yang harus dipertanggungjawabkan (UYHD), dana pembangunan pendidikan (DPP), operasi perawatan fasilitas (OPF); dan lain­lain; (2) pengeluaran untuk kegiatan belajar mengajar, pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana, bahan-bahan dan alat pelajaran, honorarium dan kesejahteraan.

Lipham (1985) mengungkapkan empat fase kegiatan pokok penyusunan anggaran sebagai berikut.

a.      Perencanaan anggaran; merupakan kegiatan mengidentifikasi tujuan, menentukan prioritas, menjabarkan tujuan ke dalam penampilan operasional yang dapa} diukur, menganalisis alternatif pencapaian tujuan dengan analisis cost-efectiveness, membuat rekomendasi alternatif pendekatan untuk mencapai sasaran.

b.      Mempersiapkan anggaran; antara lain menyesuaikan kegiatan dengan mekanisme anggaran yang berlaku, bentuknya, distribusi, dan sasaran program pengajaran perlu dirumuskan dengan jelas. Melakukan inventarisasi kelengkapan peralatan, dan bahan-bahan yang telah tersedia.

c.      Mengelola pelaksanaan anggaran; antara lain mempersiapkan pembukaan, melakukan pembelanjaan dan membuat transaksi, membuat perhitungan, mengawasi pelaksanaan sesuai dengan prosedur kerja yang berlaku, serta membuat laporan dan pertanggung-jawaban keuangan.

d.      Menilai pelaksanaan anggaran; antara lain menilai pelaksanaan proses belajar-mengajar, menilai bagaimana pencapaian sasaran program, serta membuat rekomendasi untuk perbaikan anggaran yang akan datang.

Perencanaan pembiayaan pendidikan berbasis madrasah memerlukan data yang akurat dan lengkap sehingga semua perencanaan kebutuhan untuk masa yang akan datang dapat diantisipasi dalam rancangan anggaran. Beberapa faktor yang turut mempengaruhi perencanaan pembiayaan pendidikan berbasis madrasah antara lain: laju pertumbuhan peserta didik, inflasi, pengembangan program, dan perbaikan serta peningkatan pendekatan pembelajaran (2003: 116-117)

b)     Pengembangan Rencana Anggaran Belanja Madrasah (RAPBM)

Proses pengembangan RAPBM pada umumnya menempuh langkah-langkah pendekatan dengan prosedur sebagai berikut.

a.      Pada Tingkat Kelompok Kerja

Kelompok kerja yang dibentuk madrasah, yang terdiri dari para pembantu kepala madrasah memiliki tugas antara lain melakukan identifikasi kebutuhan-kebutuhan biaya yang harus dikeluarkan, selanjutnya diklasifikasikan, dan dilakukan perhitungan sesuai dengan kebutuhan.

Dari hasil analisis kebutuhan biaya yang dilakukan oleh kelompok kerja selanjutnya dilakukan seleksi alokasi yang diperkirakan sangat mendesak dan tidak bisa dikurangi, sedangkan yang dipandang tidak mengganggu kelancaran kegiatan pendidikan, khususnya proses pembelajaran maka dapat dilakukan pengurangan biaya sesuai dengan dana yang tersedia:


b.      Pada Tingkat Kerjasama dengari Komite Madrasah

Kerjasama antara Komite Madrasah dengan kelompok kerja yang telah terbentuk perlu dilakukan untuk mengadakan rapat pengurus dan rapat anggota dalam rangka mengembangkan kegiatan yang harus dilakukan sehubungan dengan pengembangan RAPBM.

c.      Sosialisasi dan Legalitas

Setelah RAPBM dibicarakan dengan Komite Madrasah selanjutnya disosialisasikan kepada berbagai pihak. Pada tahap sosialisasi dan legalitas ini kelompok kerja melakukan konsultasi dan laporan pada pihak pengawas, serta mengajukan usulan RAPBM kepada Kanwil Departemen Agama untuk mendapat pertimbangan dan pengesahan.

2)      Pelaksanaan

Pelaksanaan pembiayaan pendidikan berbasis madrasah dalam garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam dua kegiatan, yakni penerimaan dan pengeluaran atau penggunaan.


a)      Penerimaan

Penerimaan pembiayaan pendidikan madrasah dari sumber­sumber dana perlu dibukukan berdasarkan prosedur pengelolaan yang selaras dengan ketetapan yang disepakati, baik berupa konsep teoretis maupun peraturan pemerintah. Secara konseptual banyak pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan penerimaan keuangan, namun secara peraturan termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan di madrasah ada beberapa karakteristik yang identik.

Berdasarkan buku pedoman rencana, program dan penganggaran, sumber dana pendidikan yang dapat dikembangkan dalam anggaran belanja madrasah antara lain meliputi anggaran rutin (DIK); anggaran pembangunan (DIP); dana penunjang pendidikan (DPP); Dana masyarakat; donatur; dan lain-lain yang dianggap syah oleh semua pihak. Pendanaan pendidikan pada dasarnya bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat (Pasal 33 No. 2 Tahun 1989). Di samping itu, dapat pula digali sumber-sumber yang mungkin dari pihak masyarakat dalam bentuk kerja sama saling menguntungkan (mutualisma).

Prosedur pembukuan penerimaan pembiayaan pendidikan berbasis madrasah di lingkungan Departemen Agama, nampaknya menganut pola paduan antara pengaturan pemerintah pusat dan madrasah. Dalam hal ini ada beberapa anggaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang intinya pihak madrasah tidak boleh menyimpang dari petunjuk penggunaan atau pengeluarannya, dan madrasah hanya sebagai pelaksana pengguna dalam tingkat mikro kelembagaan. Dengan demikian, pola manajemen pembiayaan pendidikan berbasis madrasah, terbatas pada pengelolaan dana tingkat operasional. Salah satu kebijakan pembiayaan pendidikan berbasis madrasah adalah adanya pencarian tambahan dana dari partisipasi masyarakat, selanjutnya cara pengeiolaannya dipadukan sesuai tatanan yang lajim sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun demikian, sesuai dengan semangat otonomi daerah dan desentralisasi-pendidikan dengan pengembangan konsep manajemen berbasis madrasah, maka madrasah memiliki kewenangan dan keleluasaan yang cukup lebar dalam kaitannya dengan manajemen pembiayaan untuk mencapai efektifitas pencapaian tujuan madrasah.

Pada umumnya di setiap madrasah telah ditetapkan bendahara sesuai dengan peran dan fungsinya. Untuk uang yang harus dipertanggungjawabkan (UYHD), ditunjuk bendahara oleh pihak berwewenang dan sebagai atasan langsungnya adalah kepala madrasah. Uang yang dibukukan merupakan aliran masuk dan ke luar setelah mendapat perintah dari atasan langsung.

Sedang uang yang diterima dari masyarakat, ditunjuk bendahara lain dengan sepengetahuan dan kesepakatan pihak komite madrasah ditunjuk dari anggota sesuai dengan persetujuan musyawarah. Berkaitan dengan aliran keuangan yang berasal dari masyarakat, madrasah dalam hal ini pengguna harus mendapat persetujuan komite madrasah.

b)     Pengeluaran

Dana yang diperoleh dari berbagai sumber perlu digunakan secara efektif dan efisien. Artinya, setiap perolehan dana dalam pengeluarannya harus didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang telah disesuaikan dengan perencanaan, pembiayaan pendidikan di madrasah.

Pengeluaran madrasah berhubungan dengan pembayaran keuangan madrasah untuk pembelian beberapa sumber atau input dari proses madrasah seperti pendidik, tenaga kependidikan, bahan-bahan, perlengkapan, dan fasilitas. Ongkos menggambarkan seluruh sumber yang digunakan dalam proses madrasah, apakah digambarkan dalam anggaran biaya madrasah atau tidak. Ongkos dari sumber madrasah termasuk nilai setiap input yang digunakan, sekalipun madrasah menyumbangkan atau tidak terlihat secara akurat.

Dalam manajemen pembiayaan pendidikan berbasis madrasah, pengeluaran keuangan (UYHD) harus dibukukan sesuai dengan pola yang ditetapkan oleh peraturan. Beberapa hal yang harus dijadikan patokan bendahara dalam pertanggungjawaban pembukuan, meliputi format buku kas harian, buku tabelaris, dan format laporan daya serap penggunaan anggaran serta beban pajak. Aliran pengeluaran keuangan harus dicatat sesuai dengan waktu serta peruntukannya.

Untuk mengefektifkan pembuatan perencanaan pembiayaan pendidikan berbasis madrasah, maka yang sangat bertanggung Jawab sebagai pelaksana adalah kepala madrasah. Kepals madrasah harus mampu mengembangkan sejumlah dimensi perbuatan administratif. Kemampuan untuk menerjemahkan program pendidikan ke dalam ekuivalensi keuangan merupakan hal penting dalam penyusunan anggaran belanja. Kegiatan yang membuat anggaran belanja bukan pekerjaan rutin atau mekanis melibatkan pertimbangan tentang maksud-maksud dasar dari pendidikan dan program. Berdasarkan perspektif tersebut perencanaan pembiayaan pendidikan berbasis madrasah harus dapat membuka jalan bagi pengembangan dan penjelasan konsep-­konsep tentang tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan, dan merancang cara-cara pencapaiannya.

Dalam manajemen pembiayaan pendidikan berbasis madrasah penyusunan anggaran belanja madrasah dilaksanakan oleh kepala madrasah dibantu para wakilnya yang ditetapkan oleh kebijakan madrasah, serta komite madrasah di bawah pengawasan pemerintah (Depag RI, 2003: 120-121).

3)      Penilaian

Dalam pengelolaan keuangan diperlukan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi dan waspada. Karena masalah uang adalah masalah yang sangat rawan, beda sedikit antara laporan dengan kenyataan akan berakibat rawan konflik dan terjadi kecurigaan yang akan berakibat pecahnya kebersamaan di lembaga.

Untuk itu diperlukan penilaian (evaluasi); evaluasi perlu dilaksanakan untuk mengetahui sejauhmana efektitas belajar dan mengajar,  prestasi belajar siswa, perkembangan  dan kemajuan murid. Selain  itu evaluasi dijadikan feedback atau umpan balik dimana dengan evaluasi dapat diketahui kekurangan  dan perkembangan yang dicapai, sehingga bisa dicarikan  cara perbaikan di masa-masa yang akan datang. Jadi dengan demikian evaluasi merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan Pendidikan Agama  Islam.

Dalam rangka mengontrol proses yang telah dilakukan secara bersama-sama tersebut diperlukan adanya evaluasi. Evaluasi juga diperlukan dalam madrasah, dalam madrasah evaluasi diperlukan untuk melihat keberhasilan peserta didik dalam aktivitas belajarnya, terutama bagi orang lain (di luar dirinya), baik dalam keluarga, masyarakat maupun madrasah.

Evaluasi perlu dilakukan berdasarkan atas kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial (social being). Perwujudan manusia sebagai makhuk sosial terutama nampak dalam kenyataan bahwa tak ada manusia yang mampu hidup (lahir dan proses dibesarkan) tanpa bantuan orang lain (Tim Dosen, 1996: 265)

C.    Tujuan Belajar Siswa

Siapapun tidak akan pernah menyangkal bahwa kegiatan belajar mengajar tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dengan penuh makna. Di dalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan ke dalam ciri setiap pribadi anak didik.

Sebagaimana dikatakan oleh Mudjiono dan Dimyati mengatakan bahwa tujuan belajar adalah agar kemampuan siswa meningkat (2006: 25)

Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakanya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Dalam proses belajar dan mengajar ini harus diketahui bahwa setiap proses pasti mempunyai tujuan, demikian pula dengan proses belajar mengajar (Djamarah, 2002: 43)

Demikian juga dengan pendidikan di madrasah, setiap madrasah pasti mempunyai program-program yang harus dijalankan sehingga jika program-program itu telah dilaksanakan dengan baik, maka secara otomatis tujuan belajar akan dapat diraih dengan sendirinya.

Karena madrasah merupakan lembaga pendidikan khusus yang berciri khas keislaman, maka tujuan yang dicanangkan oleh madrasah juga berciri khas. Adapun tujuan belajar yang hendak diberikan kepada siswa adalah perubahan pengetahuan, keterampilan, pola-pola tingkah laku, sikap, nilai-nilai dan kebiasaan (Uhbiyati, 1999: 53)

Secara umum tujuan belajar siswa adalah sebagai berikut :

1.      Untuk mendapatkan pengetahuan

Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan,

Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian. Anak didik mempunyai tujuan, unsur lainnya sebagai pengantar atau pendukung (Djamarah, 2002: 46)

Dengan proses pembelajaran, setiap anak didik akan melakukan interaksi, baik dengan sesama peserta didik, dengan gurunya maupun dengan lingkungannya. Dari setiap interaksi ini, disadari maupun tidak peserta didik akan memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud di sini adalah bertambahnya “rasa tahu”. Peserta didik yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti. Khozin mengatakan dengan aktifnya siswa mengikuti proses belajar mengajar diharapkan peserta didik akan mampu dan mau melakukan upaya peningkatan keahlian dan kapasitas diri secara terus menerus (2006: 35)

2.      Untuk mendapatkan keterampilan / skill

Dalam implementasinya di madrasah, MBM menuntut kepala madrasah dan guru yang berkualitas dan profesional untuk melakukan kerjasama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.

Salah satu tujuan pembelajaran di madrasah adalah untuk mendapatkan keterampilan. KBK memfokuskan pada pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Oleh karena itu kurikulum yang diterapkan di madrasah diarahkan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan (DEPAG RI, 2003: 45-46)

3.      Pembentukan sikap

Kurikulum Berbabis Kompetensi (KBK) ataupun juga Kurikulum Berbabis Madrasah (KBM) keberadaannya ditekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas standar performansi tertentu, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Kurikulum Berbabis Madrasah (KBM) diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab (DEPAG RI, 2003: 45)

Selain itu tujuan peserta didik dalam belajar atau menuntut ilmu adalah pembinaan pribadi muslim yang berpadu pada perkembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual, dan sosial (Djamaluddin, Aly Abdullah, 1999: 16)

D.    Pengaruh Pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah terhadap Pencapaian Tujuan Belajar Siswa

Segala bentuk aktifitas dapat dipastikan mengeluarkan efek (pengaruh) baik efek tersebut berpengaruh secara positif maupun berdampak negatif.  Di dalam lembaga pendidikanpun setiap penerapan kebijakan dari kepala madrasah, guru maupun dari elemen-elemen yang terkait juga memberikan dampak atau pengaruh, pengaruh yang ditimbulkan juga bisa berdampak positif maupun berpengaruh negatif.

Salah satu dampak atau pengaruh dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian. Anak didik mempunyai tujuan, unsur lainnya sebagai pengantar atau pendukung (Djamarah, 2002: 46)

Menurut Mulyasa dikatakan jika MBS (juga MBM) dilaksanakan secara efektif dan efisien maka semua aspek yang berkaitan dengan pelaksanan belajar mengajar harus tampil dengan professional. Guru harus berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas, karena guru merupakan teladan dan panutan langsung bagi peserta didik di kelas. Disamping itu, guru perlu   siap dengan segala  kewajiban, baik manajemen maupun isi materi pengajaran, sehingga guru dapat mengorganisasikan kelasnya dengan baik. Sehingga jika guru  
sudah dapat tampil maksimal dan profesional maka suasana kelas yang menyenangkan akan tercipta, murid memiliki sikap disiplin yang bagus, karena dengan disiplin yang bagus akan mendorong semangat belajar peserta didik (2004: 57-58)

E.     Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini meliputi adalah : Ada pengaruh pelaksanaan manajemen terhadap pencapaian tujuan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah  ........ Tahun Pelajaran  ........

Kemudian dari hipotesa kerja (ha) di atas dirubah menjadi hipotesa nihil (ho) untuk menghindari subyektifitas dalam penelitian. Hal ini yang menjadi alasan dirubahnya hipotesa kerja (ha) kedalam bentuk hipotesa nihil(ho) sebab hipotesa nihil (nol) diuji dengan perhitungan statistik dan biasanya diungkapkan dengan pernyataan tidak ada perbedaan atau kaitannya dengan judul tidak ada pengaruh (Surakhmad,1990 :72).   Adapun hipotesa nihilnya berbunyi  :  Tidak ada pengaruh pelaksanaan manajemen terhadap pencapaian tujuan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah  ........ Tahun Pelajaran  .........


BAB III

LAPORAN PENELITIAN

 

A.    Latar Belakang Obyek

  1. Sejarah Berdirinya MTs.  ........

Pondok pesantren sebagai lembaga keagamaan yang bergerak di dalam pelbagai bidang yaitu dakwah islamiyah, pengembangan misi keagamaan, pelayanan masyarakat sosial serta pendidikan dan pengajaran.

Karena pondok pesantren turut bergerak dalam bidang pendidikan dan pengajaran, maka sebagai konsekwensi logis adalah adanya lembaga-lembaga pendidikan formal, pendidikan formal yang dimulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, dan lembaga itu ada mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, dan lembaga itu ada yang berafilasi ke Departemen agama.

Dengan berdirinya lembaga yang ada itu, dimaksudkan agar para santri menyeleksi atau memilih sekolah yang mana akan dijadikan tempat studinya sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan individu dan prospeknya masing-masing.

Sedangkan salah satu lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Pondok Pesantren  ........ yaitu MTs  ........ yang berdiri resmi mulai lahun 1977, dan baru mendapat SK Yayasan tertanggal 01 Januari 1978 dengan nomor 039/NJ/A-III/1978. Sedangkan piagam yang dikeluarkan oleh Departemen Agama bernomor : 1.m/3/386/1980. Namun sebelum berdiri lembaga MTs.  ........ Paiton terdapat pergantian atau perubahan nama lembaga yang didasarkan pada situasi dan kondisi pada saat itu.

Sebagai langkah awal, berdirinya sebuah lembaga yang bernama FLOUR KELAS (sebuah nama yang diberikan oleh KH. Abd Wafi sekaligus sebagai kepala sekolah). Lembaga ini didirikan dengan maksud sebagai lanjutan bagi santri yang melanjutkan studinya setelah menamatkan diri di sekolah Ibtidaiyah. Hanya lembaga ini berjalan kurang lebih selama satu tahun, kemudian dalam perjalanan berikutya banyak hambatan yang menghalangi eksisnya lembaga tersebut hingga akhirnya bubar dengan sendirinya.

Dengan bubarnya pendidikan yang bernama "flour" yaitu “flour kelas” maka pada tahun berikutnya berdirilah lembaga baru yaitu muallimin, berdirinya lembaga ini setelah kedatangan KH. Moh. Hasyim Zaini, BA. Dari Paterongan Jombang, pada tahun 1961 dan sekaligus beliau sebagai kepala sekolahnya. Beliau berusaha dengan penuh optimal mengembangkan dan memasyarakatkan. Ternyata hanya tercatat dalam sejarah lembaga pendidikan muallimin ini hanya berjalan selama 9 tahun yang terhitung sejak tahun 1961 sampai tahun 1969.

Kemudian dalam perjalanan berikutnya sebagai pengganti dari bubarnva lembaga pendidikan muallimin adalah Madrasah Tsanawiyah, lembaga ini dapat berjalan dengan cukup baik dan mempunyai prospek yang cukup jelas, sehingga tercatat lembaga milk Yayasan  ........ selama tiga tahun. Akhirnya Madrasah Tsanawiyah oleh pemerintah dinegerikan sebagaimana yang dapat kita saksikan sekarang yang betempat diantara jalan Paiton, tepatnya di desa karanganyar Paiton Probolinggo. Dan sekarang lembaga ini mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat baik.

Pada tahun 1975 sedang hangat-hangatnya masyarakat dan pemerintah mempublikasikan tentang prospek lembaga pendidikan guru agarna, maka Yayasan  ........ berpartisipasi ambil bagian mendirikan sebuah lembaga “Pendidikan Guru Agama  ........” (PGANJ). Berdirinya lembaga ini diharapkan para santri dapat mendarmabhaktikan dirinya dalam dunia pendidikan baik dalam lingkungan pemerintah maupun swasta. Dalam realitanya saat lembaga ini dibuka banyak para santri yang berminat masuk pada lembaga tersebut. Namun selanjutnya lembaga ini sudah berubah nama dan tercatat PGANJ hanya berjalan selama 3 tahun.

Selanjutnya akibat dari perubahan nama sekolah, maka pada tahun 1977, yang semulanya PGANJ 6 tahun berubah menjadi MTSNJ untuk  kelas I,     II dan III sedang  untuk  kelas IV, V dan VI menjadi MA  .........

  1. Visi dan Misi MTs.  ........

a.      Visi dan Misi

Visi               :      Terbentuknya manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlaqul karimah, berilmu, berwawasan luas, terampil dan bertanggungjawab dalam sosial kemasyarakatan. (Sesuai Visi Pondok Pesantren  ........)

 

Misi              :      1.    Penanaman Keimanan dan Ketaqwaan

2.    Pembinaan Akhlaqul Karimah

3.    Mengembangkan tradisi berpikir ilmiah

4.    Mengembangan pola pengajaran PAKEM dan inovatif

5.    Mengembangkan kreativitas siswa

6.    Menumbuh kembangkan sikap disiplin bertanggung jawab dalam bermasyarakat

  1. Struktur Organisasi MTs.  ........

Dalam struktur organisasinya, MTs. ........ kedudukan tertinggi adalah Yayasan  ........ dengan menginduk kepada Kanwil Depag Java Timur dan Kandepag Probolinggo yang kemudian dibawahnva adalah Kepala Madrasah dan Wakil Kepala Madrasah yang berkoordinasi langsung dengan komite madrasah dan KKM (Kelompok Kerja Madrasah) yang kemudian dibawahnya dibantu oleh 4 (empat) bagian WKM (Wakil Kepala Madrasah) yang masing-masing menjabat sebagai pembantu kepala Madrasah, yaitu WKM Kesiswaan, WKM Kurikulum, WKM SARPRA, WKM Humas. Kemudian di bawahnya ada Kabag Tata Usaha ( KTU ) dan Kabag Kepustakaan, kemudian Koordinasi BP, BK, Dewan Guru dan wali kelasnya yang langsung membawahi para siswa.

Adapun struktur organisaasi MTs.  ........ tahun akademik  ........ adalah sebagaimana berikut :

Kanwit Depag Jawa Timur

Kandepang Probolinggo

Yayasan  ........

Kepala Madrasah                   :     ........

Wakil Kepala Madrasah        :     ........

Kabang Tata Usaha                :     ........

Kabang Perpustakaan            :     ........

WKM. Kurikulum                 :     ........

WKM. Kesiswaan                  :     ........

WKM. Sarpra                         :    ........

WKM. Humas                        :     ........

Koordinator BP/BK               :     ........

Dewan Guru

Siswa.  

(Sumber data: Kepala Tata Usaha MTs.  ........ tahun  ........)

  1. Keadaan Curu Dan Karyawan MTs.  ........ 

Pada tahun pelajaran 2006/2007 MTs.  ........ memiliki tenaga pengajar (tenaga fungsional/guru) sebanyak 45 orang dan 6 orang tata usaha, 2 penjaga piket putra dan 2 guru piket Putri ; dan 2 penjaga perpustakaan.

Adapun dari 45 (tenaga fungsional / guru) yang berpendidikan sarjana 41 orang, dan yang berpendidikan SLTA / MA 5 orang. Kemudian dari 6 orang Tata Usaha yang berpendidikan sarjana 2 orang dan berpendidikan SLTA 4 orang. Jadi dari jumlah 56 orang sebagai guru (tenaga fungsional) dan Tata Usaha yang berpendidikan sarjana 47 orang dan berpendidikan SLTA / MA 9 orang. Dari jumlah tenaga pengajar 46 orang yang termasnk guru berkelayakan 16 orang, dan 30 yang lain belum berkelayakan 

  1. Keadaan Siswa

Pada lumrahnya keadaan siswa / siswi MTs.  ........ dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang cukup signifikan, walaupun pada kenyataannya dari tahun ke tahun mengalami pasang surut, hal ini mungkin dipengaruhi oleh adanya persaingan yang sehat dengan lembaga lain yang ada di lingkungan  .........

Untuk lebih objektifnya berikut ini tabel data perkembangan murid MTs.  .........

Tabel 3.1

Keadaan Siswa MTs.  ........

Tahun Pelajaran  ........ 

No

Kelas

Putra

Putri

Jumlah

1

VII

85

105

190

2

VIII

99

101

200

3

IX

91

104

195

JUMLAH

275

310

585

 

  1. Sarana Prasarana

Tabel 3.2

Keadaan Sarana Prasarana MTs.  ........

Tahun Pelajaran 2006/2007 

No

Nama Barang

Jumlah

Keterangan

1

2

3

4

1

Ruang kepala sekolah

1 ruang

Baik

2

Ruang WKM

1 ruang

Baik

3

Ruang TU

1 ruang

Baik

4

Ruang Guru

1 ruang

Baik

5

Ruang BP

1 ruang

Baik

6

Ruang perpustakaan

1 ruang

Baik

7

Ruang laboratorium

1 ruang

Baik

8

Ruang audiovisual

1 ruang

Baik

9

Aula

1 ruang

Baik

10

Ruang komputer

1 ruang

Baik

11

Ruang keterampilan

1 ruang

Baik

12

Ruang OSIS

1 ruang

Baik

13

Ruang gudang

1 ruang

Baik

14

Ruang Lab. Bahasa

1 ruang

Baik

15

Ruang WC

6 ruang

Baik

16

Ruang kelas

19 ruang

Baik

  1. Motto Sukses

a.       Muridku adalah murid yang terbaik

b.      Lembagaku adalah lembaga yang terbaik

c.       Saya adalah guru yang terbaik

d.      Disiplin adalah kunci kesuksesan


  1. Tata Tertib Siswa

a.       Kewajiban Siswa

Setiap siswa wajib    :

1)      Mengikuti pembacaan do’a bersama sebelum pelajaran pertama di mulai.

2)      Taat kepada orang tua, Kepala Madrasah, Guru dan Karyawan yang lainya.

3)      Menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan yang kondusif dengan ikut bertanggung jawab atas pemeliharaan kebersihan lingkungan, gedung, halaman, Madrasah, laboratorium, perpustakaan  dan semua prasarana yang ada.

4)      Wajib memakai pakaian seragam Madrasah lengkap dengan atributnya setiap hari sesuai  dengan ketentuan yang berlaku, antara lain   :

a.      Senin dan Selasa  :  Pramuka

b.      Rabu dan Kamis    :  Dongker - Putih

c.      Sabtu dan Ahad     :    Pakaian Khas

5)      Memakai sepatu (bagi putra dan putri), memakai songkok’ dan ikat pinggang  bagi putra.

6)      Mengikuti pelajaran dengan tertib sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

7)      Menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan  oleh Guru  mata pelajaran atau Guru pembina ekstra kurikuler dengan sebaik-baiknya.

8)      Menjadi anggota perpustakaan dengan mematuhi ketentuan yang berlaku.

9)      Menjadi anggota OSIS, mematuhi/mentaati dan mengikuti segala kegiatan yang di selenggarakan oleh OSIS , serta bersedia menyumbangkan tenaga dan fikiran untuk kemajuan OSIS.

10)  Mematuhi tata tertib yang di berlakukan  khusus di laboratorium, perpustakaan, keterampilan, atau ruang tempat pendidikan  yang lain.

11)  Berada di dalam kelas  setelah pembacaan do’a selesai.

b.      Hak – Hak Siswa

1)      Siswa berhak mengikuti pelajaran selama yang bersangkutan tidak melanggar  tata tertib.

2)      Siswa dapat meminjam  kitab/buku-buku di perpustakaan Madrasah dengan mentaati  peraturan perpustakaan  yang berlaku.

3)      Siswa dapat  menggunakan fasilitas yang ada  dan disediakan untuk siswa seperti laboratorium, perpustakaan, keterampilan dengan seizin pengelola/penanggung jawab dan mematuhi tata tertib yang berlaku

4)      Siswa berhak mendapatkan layanan khusus dari Guru bimbingan dan konseling dalam menyelesaikan masalah-masalah kesulitan belajar dan atau masalah pribadi

5)      Siswa dapat mengajukan perbaikan apabila penilaian  non akademik yang diberikan tidak sesuai, dengan syarat dapat menunjukkan kebenaran  dengan data-data yang akurat.

  1. Keadaan Tenaga Edukatif dan Administrasi

Untuk melaksanakan proses pendidikan sangat membutuhkan tenaga edukatif dan administrasi dalam suatu lembaga pendidikan. Seperti halnya sekolah-sekolah yang lainnya.

Tabel 3.3

Tenaga Edukatif MTs.  ........

Tahun Pelajaran 2006 / 2007

No

Nama

Pendidikan Terakhir

Bidang Studi

Jabatan

1

2

3

4

5

1



Sumber Data :  Kantor MTs.  ........ tahun  ........

B.     Penyajian Data

Berdasarkan  tabel 3.2 maka jumlah seluruh dari populasi adalah 585 yang terdiri dari atas kelas VII, VIII dan IX. Dari populasi tersebut ditetapkan 100 orang sebagai sampel penelitian sekaligus sebagai responden.

Adapun teknik yang digunakan dalam pengambilan responden adalah dengan teknik Stratified Proporsional Random Sampling, yaitu pengambilan sampel disesuaikan dengan banyak sedikitnya populasi yang ada pada masing-masing sub populasi tersebut.

Sedangkan perincian selengkapnya dapat diketahui dari tabel di bawah ini :

Tabel 3.4

Hasil Penentuan Sampel Penelitian

MTs.  ........ Tahun Pelajaran  ........

No.

Kelas

Populasi

Sampel

1

2

3

4

1

VII

190


2

VIII

200


3

IX

195


Jumlah

585

100

Sumber Data : Kantor MTs.  ........

Setelah jumlah responden diketahui, maka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi responden semua siswa diberi hak yang sama untuk menjadi responden. Kemudian setelah angket terkumpul dilakukan undian terhadap semua individu dalam populasi.

Dari undian tersebut dapat diketahui nama-nama responden, sebagaimana yang dapat terlihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 3.5
Nama-Nama Responden

No.

Nama

Jenis Kelamin

Kelas

1

2

3

4

1.       

Abdul Hamid

L

I

2.       

Deny Firmansyah

L

I

3.       

Husni Mubarok

L

I

4.       

M. Ali Wafa

L

I

5.       

Mujib Kholil

L

I

6.       

Abdul Wahid

L

I

7.       

Ahmadi

L

I

8.       

Hamdan

L

I

9.       

Moh. Afif

L

I

10.   

M. Miftah

L

I

11.   

Abdul Latif

L

I

12.   

Abdul Ghofir

L

I

13.   

Agus Saroso

L

I

14.   

Amir Ali Akbar

L

I


 

1

2

3

4

15.   

Mahrus Ali

L

I

16.   

Moh. Abd. Jalil

L

I

17.   

Aning Drafisa

P

I

18.   

Nur Mutammimah

P

I

19.   

Rahmatul Karimah

P

I

20.   

Siti Masluhah Sunni

P

I

21.   

Wilda Luk

P

I

22.   

Arida Nailatus Salamah

P

I

23.   

Desy Purnamasari

P

I

24.   

Hikmah Ulil Fitrah

P

I

25.   

Ida Zulfiyah

P

I

26.   

Linda Susanti

P

I

27.   

Rofiatun

P

I

28.   

Ariska Triya Anggraini

P

I

29.   

Aswah Nurul

P

I

30.   

Faiz Alfiyah

P

I

31.   

Fima Asyiqoh

P

I

32.   

Ike Nur Jannah

P

I

33.   

Abd Shomat

L

II

34.   

Ahmat Bisri Somat

L

II

35.   

Ahmat Latif Rijal

L

II

36.   

Danang Priyanggoro

L

II

37.   

Ekky Riyastiyandi

L

II

38.   

Fahmi Abdillah

L

II

39.   

Fandi Ahmad

L

II

40.   

Fauzi

L

II

41.   

A. Saiful Halil

L

II

42.   

A . Saini Fuad

L

II

43.   

Ahmad Arifin

L

II

44.   

Ahmad Gufron

L

II

45.   

Ahmad Dahlan

L

II

46.   

Ahmad Zainul

L

II

47.   

Ana Mahgfiroh

P

II

48.   

Anisah Hardiyati

P

II

49.   

Anisah Lutfiatin

P

II

50.   

Elda Rahayu

P

II

51.   

Efi Firdausiyah

P

II

52.   

Fatimah Indriyani

P

II

53.   

Anggraeni Putrik

P

II

54.   

Devi Permatasari

P

II

55.   

Elok Fitriyah

P

II


 

1

2

3

4

56.   

Faridatul Hasanah

P

II

57.   

Atika Turrohmah

P

II

58.   

Evi Kartika Rahmayani

P

II

59.   

Fitriyah Mulia Anggraeni

P

II

60.   

Iin Pangestuti

P

II

61.   

Indah Nurfasillah

P

II

62.   

Qurratul Awaliyah

P

II

63.   

Yofi Asfarina

P

II

64.   

Sofiatul Hasanah

P

II

65.   

Zainatur Rahmah

P

II

66.   

Ilfil Laili Fitriyah

P

II

67.   

Ahmad Ridlo

L

III

68.   

Aqil Rahmad Sholeh

L

III

69.   

Bahtiar Hadi Handoko

L

III

70.   

Edi Suyanto

L

III

71.   

Fauzan Hamdani

L

III

72.   

Hidayatullah

L

III

73.   

Walidil Ulum

L

III

74.   

Misbahul Munir

L

III

75.   

Hendera Hermawan

L

III

76.   

Lutfi Andri

L

III

77.   

Moh. Roni Hadi

L

III

78.   

Tito Roy Zakki M

L

III

79.   

Zainal Abiding

L

III

80.   

Mujib Cholil

L

III

81.   

Nurul Huda

L

III

82.   

Ramatul Karimah

P

III

83.   

Silvi Arofiyah Fauzi

P

III

84.   

Siti M Asluhah Sunni

P

III

85.   

Uswatun Hasanah Ali

P

III

86.   

Wardatul Mufarruhah

P

III

87.   

Wida Alup

P

III

88.   

Zainatus Sholehah

P

III

89.   

Zubdatul Mansyuroh

P

III

90.   

Nuri Intofiya Wahyu

P

III

91.   

Rusnani

P

III

92.   

Siti Khotijah

P

III

93.   

Sukmatun Hasanah

P

III

94.   

Wilda Alifah

P

III

95.   

Wiwin Muawanah

P

III

96.   

Yulia Cipta Sulistiawati

P

III


 

1

2

3

4

97.   

Ririt Nofita Sari

P

III

98.   

Lailul Amlia

P

III

99.   

Fatimatus Zahro

P

III

100.           

Nabilatus Sakdiyah

P

III

 

Selanjutnya untuk memperoleh data tentang pengaruh pelaksanaan manajemen berbasis madrasah terhadap tujuan belajar siswa, dengan melalui penyebaran angket, tetapi terlebih dahulu akan dikemukakan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

  1. Jumlah pertanyaan angket seluruhnya 13 item yang dibagi atas :

-          Pertanyaan tentang pengelolaan kurikulum ada 3 item

-          Pertanyaan tentang sarana prasarana ada 2 item

-          Pertanyaan tentang pengelolaan kesiswaan ada 2 item

-          Pertanyaan tentang pengelolaan keuangan ada 3 item

-          Pertanyaan tentang tujuan belajar ada 3 item

  1. Skoring data

Skoring data adalah memberikan nilai dari setiap item jawaban yang telah dijawab oleh responden dengan ketentuan sebagai berikut :

-          Jika responden menjawab a diberikan 3

-          Jika responden menjawab b diberikan 2

-          Jika responden menjawab c diberikan 1

-          Jika responden memperoleh total skor sama dengan di atas rata-rata, maka akan dikategorikan baik

-          Jika responden memperoleh total skor dibawah rata-rata, maka akan dikategorikan kurang.

  1. Tabulasi data

Setelah data diberi kategori, maka selanjutnya dimasukkan dalam tabel persiapan dan tabel kerja.

Demikianlah langkah-langkah yang ditempuh dalam menganalisa data yang diperoleh dari penyebaran angket yang telah dijawab oleh responden.

Selanjutnya untuk lebih jelasnya akan disajikan data hasil angket, dalam tabel berikut :

Tabel 3.6

Skor Rekapitulasi Pengaruh Pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah Terhadap Pencapaian Tujuan Belajar Siswa

No

Resp.

Pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah

Pencapaian Tujuan Belajar Siswa

Kategori

Skor

Kategori

Skor

Kategori

B

K

B

K

1

2

3

4

5

6

7

8

1.       

30

B

 

9

B

 

BB

2.       

29

B

 

9

B

 

BB

3.       

30

B

 

9

B

 

BB

4.       

28

 

K

9

B

 

KB

5.       

27

 

K

9

B

 

KB

6.       

29

B

 

9

B

 

BB

7.       

25

 

K

9

B

 

KB

8.       

28

 

K

9

B

 

KB


 

1

2

3

4

5

6

7

8

9.       

26

 

K

9

B

 

KB

10.   

27

 

K

8

 

K

KK

11.   

30

B

 

9

B

 

BB

12.   

28

 

K

9

B

 

KB

13.   

30

B

 

9

B

 

BB

14.   

26

 

K

9

B

 

KB

15.   

27

 

K

9

B

 

KB

16.   

25

 

K

9

B

 

KB

17.   

30

B

 

9

B

 

BB

18.   

30

B

 

9

B

 

BB

19.   

28

 

K

9

B

 

KB

20.   

30

B

 

9

B

 

BB

21.   

29

B

 

9

B

 

BB

22.   

28

 

K

9

B

 

KB

23.   

28

 

K

9

B

 

KB

24.   

24

 

K

8

 

K

KK

25.   

30

B

 

9

B

 

BB

26.   

30

B

 

9

B

 

BB

27.   

28

 

K

9

B

 

KB

28.   

28

 

K

9

B

 

KB

29.   

28

 

K

9

B

 

KB

30.   

30

B

 

9

B

 

BB

31.   

30

B

 

9

B

 

BB

32.   

28

 

K

9

B

 

KB

33.   

30

B

 

9

B

 

BB

34.   

29

B

 

9

B

 

BB

35.   

29

B

 

9

B

 

BB

36.   

28

 

K

9

B

 

KB

37.   

29

B

 

9

B

 

BB

38.   

24

 

K

8

 

K

KK

39.   

30

B

 

9

B

 

BB

40.   

30

B

 

9

B

 

BB

41.   

30

B

 

9

B

 

BB

42.   

28

 

K

9

B

 

KB

43.   

30

B

 

9

B

 

BB

44.   

30

B

 

9

B

 

BB

45.   

27

 

K

8

 

K

KK

46.   

30

B

 

9

B

 

BB

47.   

30

B

 

9

B

 

BB

48.   

26

 

K

7

 

K

KK

49.   

30

B

 

9

B

 

BB


 

1

2

3

4

5

6

7

8

50.   

30

B

 

9

B

 

BB

51.   

30

B

 

9

B

 

BB

52.   

30

B

 

9

B

 

BB

53.   

29

B

 

9

B

 

BB

54.   

28

 

K

8

 

K

KK

55.   

28

 

K

9

B

 

KB

56.   

25

 

K

8

 

K

KK

57.   

30

B

 

9

B

 

BB

58.   

30

B

 

9

B

 

BB

59.   

26

 

K

9

B

 

KB

60.   

26

 

K

9

B

 

KB

61.   

30

B

 

9

B

 

BB

62.   

30

B

 

9

B

 

BB

63.   

30

B

 

9

B

 

BB

64.   

30

B

 

9

B

 

BB

65.   

30

B

 

9

B

 

BB

66.   

30

B

 

9

B

 

BB

67.   

30

B

 

9

B

 

BB

68.   

26

 

K

7

 

K

KK

69.   

30

B

 

9

B

 

BB

70.   

30

B

 

9

B

 

BB

71.   

28

 

K

8

 

K

KK

72.   

28

 

K

9

B

 

KB

73.   

29

B

 

9

B

 

BB

74.   

27

 

K

9

B

 

KB

75.   

30

B

 

9

B

 

BB

76.   

30

B

 

9

B

 

BB

77.   

30

B

 

9

B

 

BB

78.   

28

 

K

9

B

 

KB

79.   

30

B

 

9

B

 

BB

80.   

28

 

K

9

B

 

KB

81.   

28

 

K

9

B

 

KB

82.   

30

B

 

9

B

 

BB

83.   

30

B

 

9

B

 

BB

84.   

30

B

 

9

B

 

BB

85.   

30

B

 

9

B

 

BB

86.   

30

B

 

9

B

 

BB

87.   

30

B

 

9

B

 

BB

88.   

30

B

 

9

B

 

BB

89.   

30

B

 

9

B

 

BB

90.   

28

 

K

9

B

 

KB


 

1

2

3

4

5

6

7

8

91.   

28

 

K

9

B

 

KB

92.   

30

B

 

9

B

 

BB

93.   

30

B

 

9

B

 

BB

94.   

30

B

 

9

B

 

BB

95.   

30

B

 

9

B

 

BB

96.   

29

B

 

9

B

 

BB

97.   

30

B

 

9